Pandemi COVID-19 turut memberikan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam perihal merawat diri. Fenomena tersebut terbukti benar, karena data penjualan skincare di Indonesia menunjukkan adanya lonjakan drastis.
Banyak penduduk Indonesia usia muda yang mulai peduli dengan penampilan dan kesehatan kulit mereka. Alhasil, industri kecantikan nasional pun menjadi semakin berkembang pesat dan inilah waktu yang tepat untuk berkecimpung ke dalamnya.
Table of Contents
ToggleData Penjualan Skincare di Indonesia Mencapai Rp 111,83 Triliun
Melansir dari Katadata, pendapatan di sektor kecantikan dan perawatan diri mencapai 7,23 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 111,83 triliun (kurs Rp 15.467,05) pada tahun 2022 lalu. Karenanya, sektor ini diperkirakan mengalami kenaikan tahunan sebesar 5,81% CAGR selama periode 2022 hingga 2027.
Menelisik lebih dalam, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa segmen pasar perawatan diri (body care) pada tahun 2022 menduduki peringkat pertama, dengan volume pasar sebesar 3,18 miliar dolar AS. Kemudian, skincare menduduki peringkat kedua dengan volume pasar sebesar 2,05 miliar dolar AS dan makeup sebesar 1,61 miliar dolar AS.
Masih dari Katadata, pendapatan di sektor kecantikan dan perawatan diri mencapai 7,23 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 111,83 triliun (kurs Rp 15.467,05) pada tahun 2022 lalu. Karenanya, sektor ini diperkirakan mengalami kenaikan tahunan sebesar 5,81% CAGR selama periode 2022 hingga 2027.
Menelisik lebih dalam, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa segmen pasar perawatan diri (body care) pada tahun 2022 menduduki peringkat pertama, dengan volume pasar sebesar 3,18 miliar dolar AS. Kemudian, skincare menduduki peringkat kedua dengan volume pasar sebesar 2,05 miliar dolar AS dan makeup sebesar 1,61 miliar dolar AS.
Temuan tersebut sejalan dengan riset Katadata Insight Center (KIC) dan Sirclo pada tahun 2021. Masyarakat Indonesia cenderung berbelanja daring produk kesehatan dan kecantikan, daripada produk lainnya selama pandemi COVID-19. Oleh sebab itu, terjadilah kenaikan nilai dari 29,1% pada 2019 menjadi 40,1% pada 2021.
Selanjutnya, riset yang bertajuk Indonesian FMCG Report 2023 menyatakan bahwa total nilai penjualan sektor FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) di tiga e-commerce (Blibli, Shopee, Tokopedia) mencapai Rp 57,6 triliun.
Hanindia Narendrata, selaku Co-Founder & CEO Compas, mengatakan bahwa nilai penjualan sektor FMCG tahun 2023 mengalami kenaikan sebesar 1,03%. Dari empat kategori utama yang masuk dashboard, Perawatan dan Kecantikan menjadi kategori terlaku dengan nilai Rp 28,2 triliun atau 49% dari total nilai penjualan se-Indonesia.
Potensi Pertumbuhan Pasar Secara Global
Tingginya lonjakan angka yang termuat dalam data penjualan skincare di Indonesia, sebagai akibat dari perilaku masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Maka dari itu, masyarakat kian sadar akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh, baik dari luar maupun dalam.
Perubahan perilaku tersebut tentu merupakan pasar yang menggiurkan. Sudah sewajarnya apabila banyak merek kecantikan menjamur hingga pelosok negeri. Siapa saja berhak terjun untuk mencicipi peluang yang menjanjikan ini.
Menurut laporan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), yang kami lansir dari laman resmi pemerintah indonesia.go.id, pertumbuhan jumlah pelaku usaha kosmetik mengalami peningkatan yang awalnya berjumlah 819 di tahun 2021 menjadi 1.010 pada pertengahan tahun 2023.
Mengikuti peningkatan kuantitas, tren “Cinta Produk Indonesia” juga menjadi indikasi meningkatnya kualitas, sehingga produk lokal mampu bersaing dengan produk internasional. Usaha skincare nasional menembus pasar ekspor dengan nilai USD 770,8 juta di periode Januari sampai November 2023.
Potensi peningkatan pasar bisa mencapai 467.919 produk (lebih dari 10 kali lipat) dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini. Sementara itu, data penjualan skincare di Indonesia menuju pasar global berpotensi mengalami peningkatan mencapai USD 473.21 miliar pada tahun 2028 nanti, dengan nilai rata-rata 5,5% per tahunnya.
Kesadaran Penggunaan Skincare Halal
Salah satu faktor pemicu peningkatan penjualan skincare adalah peningkatan minat terhadap produk berlabel halal. Tambahan pula, pemerintah Indonesia mendorong penetrasi produk lokal ke negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim. Misalnya, Timur Tengah dan Afrika.
Indonesia Halal Economic Report tahun 2022 menyatakan bahwa industri kosmetik halal nasional memiliki nilai pasar 4.19 miliar USD dan akan terus tumbuh hingga 8% per tahun.
Oleh sebab itu, industri skincare dan personal care nasional mempunyai peluang yang sangat besar, mengingat Sumber Daya Alam (SDA) sebagai bahan baku dan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pengolah tersedia melimpah.
Tak hanya itu saja, penduduk usia produktif sebagai pengguna produknya pun juga memperbesar potensi perkembangan pasar.
Mulai Bisnis Skincare Bersama Indocare B2B
Dengan mengetahui data penjualan skincare di Indonesia, para Smartpreneur dapat menentukan sektor dan strategi penjualan apa yang akan mereka geluti. Kedua poin tersebut menjadi pondasi dalam mendirikan sebuah perusahaan. Seperti perusahaan Indocare B2B yang memulai kiprahnya sebagai maklon sabun transparan di tahun 1988.
Kini, Indocare B2B telah berkembang menjadi perusahaan maklon skincare, personal care, dan suplemen kesehatan yang terkemuka di Indonesia. Indocare B2B selalu mengedepankan inovasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas, aman, dan berunjuk kerja tinggi.
No Comments